First Debate: Utopianism (Idealism) vs Realism

Utopianism

Istilah utopia adalah sebuah masyarakat bayangan dalam keadaan harmonis dan kedamaian yang sempurna, yang di munculkan oleh sir Thomas Moore pada abad ke-16. Usaha penting yang pertama kali untuk mendefinisikan political order yang “sempurna”, bagaimanapun dibuat oleh Plato dalam bukunya The Republic.

Pada bukunya The Republic, Plato hanya mencari masyarakat yang adil melalui pengamatan secara filosofi. Pada abad ke-17, Francis Bacon dalam bukunya New Atlantis, mendemonstrasikan bagaimana kondisi manusia dapat di tingkatkan melalui ilmu pengetahuan modern. Selanjutnya Karl Marx mengemukakan pandangan bahwa hanya melalui pengaturan ulang yang radikal dari hubungan ekonomi dalam masyarakat, keadilan yang sebenarnya dan akhir dari penderitaan manusia dapat dicapai. Tujuan akhir dari teori Marx tentang transformasi sosial adalah terciptanya masyarakat tanpa kelas. Akhirnya, pada B.F Skinner beranggapan bahwa contoh utama dari skema utopia kontemporer, psikologi behaviorallah yang memegang kunci menuju utopia. Bentuk dan isi dari masyarakat tidak begitu terlalu menjadi perhatian Skinner daripada metode untuk membawa masyarakat tersebut menjadi nyata.

Secara umum, pemikiran kaum utopia telah diinspirasikan oleh paham idealisme dan ketidaksabaran dengan ketidak adilan sosial. Bagaimanapun, keinginan untuk menjadi utopis adalah bertentangan dengan kehidupan seseungguhnya. Halangan utama dari masyarakat utopia adalah keputusan yang tidak dapat ditebak dan keegoisan dari sifat alami manusia, dimana pemikir-pemikir utopia sering mencari bagaimana cara untuk mengontrol melalui program eugenetika, pendidikan wajib, dan abolisi dari properti pribadi.

Pandangan pemikir-pemikir utopia sering menyalahkan politik untuk kegagalan dalam mengembangkan masyarakat. Sebagai hasilnya, dalam banyak perencanaan kaum utopia peranan politik dalam membawa perubahan dikurangi atau dihilangkan seluruhnya. Penolakan terhadap politik ini meninggalkan banyak skema utopia terbuka untuk kritik, yang dapat merubah mereka menjadi perencanaan untuk totalitarianisme. Beberapa perencanaan direfleksikan dalam tulisan-tulisan yang menggambarkan disutopia – utopia yang berubah menjadi mimpi buruk.

Realism

Salah satu aliran/pendekatan dalam Studi Hubungan Internasional adalah realisme. Perspektif realisme muncul pada kisaran tahun 1919-1939 sebagai bentuk reaksi atas kemunculan perspektif idealisme/utopian. Dasar pemikiran realis adalah pandangan pesimis mereka terhadap manusia, pendirian bahwa hubungan internasional itu sebenarnya penuh konflik dan konflik internasional hanya diselesaikan dengan perang, pandangan tinggi bagi nilai-nilai keamanan nasional dan ketahanan negara, dan keraguan mendasar pada kemajuan dalam politik internasional yang dapat dibandingkan dengan kehidupan politik domestik.

Aliran realisme tumbuh dan berkembang setelah usai Perang Dunia kedua (yang otomatis meruntuhkan paradigma yang dibangun kaum idealis yang berpokok mencegah perang. Aliran realis menolak serta membuang pedoman-pedoman diplomasi yang bersifat legalistik moralistik. Argumentasi kaum ini adalah bahwa hanya politik yang didasarkan kekuatan (power) saja akan memberikan memberikan setitik harapan untuk terciptanya keamanan global.

Kajian utama dari aliran realisme adalah negara sebagai aktor tunggal dan rasional dalam interaksinya diantara negara-negara. Negara dianggap sebagai aktor yang berdaulat penuh dimana tidak ada lagi aktor lainnya yang lebih tinggi daripada negara dalam memaksakan tindakan dan cara-cara tertentu. Situasi seperti ini dianggap kaum realis sebagai kondisi yang anarkis.

Realisme menyulap pandangan miring terhadap politik internasional. Dengan batas-batas teritorial dari negara yang berdaulat, politik adalah sebuah aktivitas moral yang potensial melalui struktur sosial konstruksi pemerintah. Dan politik itu lebih kepada hal bertahan hidup dari pada kemajuan. Sebuah bentuk sulit suatu tatanan melalui balance of power, bukan hukum kosmopolitan, adalah hal terbaik yang dapat kita harapkan bagi anarki internasional: sebuah keadaan dimana terjadi pergumulan yang berkelanjutan demi power dan keamanan antar negara.
Realisme sangat merujuk pada sejarah. Bagi mereka, sejarah mengajarkan kita bahwa perang dan konflik merupakan norma dalam hubungan internasional. Kedamaian seakan-akan mengambang di permukaan sejarah dan gagal untuk menerangkan fakta bahwa manusia itu cacat. Hal ini pun mengundang kritik. Salah satu kritik tersebut adalah realisme terkait dengan postulatnya bahwa perang bermula karena manusia itu adalah jahat secara alami. Bila keadaannya seperti ini, bagaimana kedamaian muncul dari waktu ke waktu? Untuk memecahkan masalah ini timbullah neorealisme, dengan tokohnya Kenneth Waltz. Ia berpendapat bahwa anarki adalah sebuah bentuk struktur yang krusial dari sistem internasional. Perang muncul sebagai hasil dari struktur ini daripada sebuah hasil dari dampak partikular dari manusia. Kritik pun berlanjut kepada neorealisme. Salah satu kritik tersebut adalah tentang pendiriannya terhadap dua kutub dalam perang dingin pada tatanan dunia dan pembedaannya atas pertanyaan moral.

Titik Perdebatan Idealism dan Realism

Titik perdebatan kedua pendangan ini dapat dilihat dalam dua garis permasalahan besar. Permasalahan pertama ialah mengenai sifat dasar manusia. Kaum realis beranggapan bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat egois dan menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingannya, meskipun itu artinya harus mengorbankan orang lain.

Hal ini diilustrasikan oleh cerita stag hunt yang dikemukakan oleh Waltz mengutip Rousseau. Dikisahkan ada lima orang yang tersesat di pegunungan (misalnya Manglayang). Mereka kelaparan dan kemudian sepakat untuk bekerjasama menangkap rusa dewasa agar cukup untuk berlima. Kemudian muncul seekor rusa dengan anaknya. Karena berada dalam jangkauannya, salah seorang dari mereka menangkap anak rusa tersebut, dan tidak mempedulikan bahwa akibat perbuatannya sang rusa dewasa akhirnya lepas. Dia hanya mementingkan diri sendiri dan lupa dengan perjanjian sebelumnya.

Sedangkan kaum idealis lebih optimistis dalam melihat sifat dasar manusia. Mereka beranggapan manusia sebagai makhluk sosial, senang bekerjasama dan memiliki rasa kemanusiaan terhadap sesamanya. Seperti misalnya, dikisahkan seorang pria sedang bersama kekasihnya mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka naiki berada di bibir jurang yang dalam dan hampir terjatuh. Pria itu kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menolong sang kekasih tercinta. Sang kekasih akhirnya dapat terselamatkan dengan didorong keluar oleh pria tersebut. Tetapi malang, si pria itu tidak sempat keluar dan akhirnya tewas, jatuh ke jurang bersama Ferrari Maranello yang baru dibelinya…

Dari cerita tersebut bisa disimpulkan bahwa ketika compassion (perasaan) seperti cinta dan kasih sayang terlibat, maka manusia dapat mengorbankan kepentingan dirinya sendiri.

Perbedaan pandangan dasar inilah yang kemudian mempengaruhi analisis kedua aliran ini. Realisme mengedepankan survival (usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup) dan self help (hanya mengandalkan diri sendiri dalam mencapai tujuannya di dunia yang anarkis). Sedangkan idealisme mengutamakan kerjasama dengan pihak lain dalam mencapai tujuan bersama seperti menciptakan perdamaian, dengan berusaha membentuk organisasi internasional.

Sementara itu garis besar permasalahan kedua terletak pada masalah diplomasi dan collective security. Woodrow Wilson mengemukakan dalam Fourteen Points-nya bahwa hendaknya praktik diplomasi dilakukan secara terbuka dan menggantikan praktik diplomasi rahasia, yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan rahasia antar-negara mengenai siapa yang akan mendapatkan wilayah apa pasca Perang Dunia Pertama.

Wilson juga meyakini bahwa perang dapat dihindari dengan menciptakan sebuah organisasi internasional, yang berlandaskan prinsip collective security. Skema yang ia bangun untuk League of Nations (LBB) bertumpu pada negara-negara anggota yang โ€˜cinta damai’ yang menganggap setiap ancaman terhadap perdamaian dunia sebagai tindakan agresi yang mengancam mereka semua, dan oleh karenanya harus direspon secara kolektif.

Aliran realis tidak setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh Wilson ini. Mereka berpendapat bahwa dalam dunia politik internasional akan selalu ada kesepakatan-kesepakatan tertutup demi mencapai kepentingan nasional. Bahkan sampai sekarang praktik spionase masih terus berlangsung, meski dikategorikan sebagai tindakan yang buruk, tetapi dianggap bukan sesuatu yang salah.
Kemudian realis juga tidak percaya bahwa organisasi internasional dan hukum internasional dapat mewujudkan perdamaian. Menurut mereka, negara-negara turut serta dalam organisasi internasional selama masih sejalan dengan kepentingan nasionalnya, bila tidak sejalan pasti akan mereka tinggalkan. Mengenai kegagalan organisasi internasional ini terbukti dengan kegagalan yang dialami oleh LBB itu sendiri, sampai akhirnya pecah Perang Dunia Kedua.

Leave a comment »

Pendefinisian HI (Hubungan Internasional)

Pendefinisian dan penamaan studi Hubungan Internasional masih sangat debatable. Sampai saat ini, para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai pendefinisian dan penamaan studi ini. Sebagai contoh ketika Chris Brown membedakan Hubungan Internasional menjadi dua, yaitu International Relations (dengan huruf kapital) sebagai ilmu dan international relations sebagai fenomena, muncul reaksi penolakan dari kaum critical theorist yang berpendapat bahwa antara suatu ilmu dan prakteknya itu tidak dapat dipisahkan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa Ilmu Hubungan Internasional (hubungan internasional sebagai suatu studi) mempelajari interaksi di tingkat global yang mempunyai dampak yang luas. Ilmu Hubungan Internasional mempelajari hubungan politik di tingkat internasional, yaitu hubungan politik antara bangsa-bangsa di dunia, terutama yang menyangkut masalah pemerintahan bangsa-bangsa tersebut. Objek dari Ilmu Hubungan Internasional sangat luas sekali, sehingga terdapat bermacam-macam pengertian. Disamping faktor objek kajian Ilmu Hubungan Internasional yang sangat luas tersebut, munculnya bermacam-macam pengertian dari Ilmu Hubungan Internasional juga disebabkan oleh zaman yang terus berkembang. Definisi Ilmu Hubungan Internasional turut berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Ada yang mengatakan bahwa hubungan internasional hanya menyangkut masalah-masalah yang meliputi diplomatik dan strategi politik dari suatu negara saja. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa hubungan internasional meliputi segala transaksi yang melewati tapal batas antar negara, dimana aktor yang berperan bukan hanya negara.

Kata “hubungan internasional” dilihat dari asal katanya international relation, hanya mempelajari masalah bangsa (nation) saja. Namun, pada praktiknya hubungan internasional juga mempelajari negara (state) dan masalah-masalah non state. Kemudian pada mulanya aktor yang dibicarakan dalam hubungan internasional hanya negara, namun hubungan antara negara-negara itu sendiri belun dapat dipahami sepeuhnya tanpa memahami cara kerja pemerintahan dari negara yang bersangkutan berikut populasi yang tinggal di dalam negara tersebut. Dan demikian pula, interaksi yang dikaji dalam hubungan internasional belum dapat dipahami sepenuhnya hanya dengan mempelajari interaksi antar negara-negara saja, tetapi organisasi-organisasi non pemerintahan juga turut terlibat. Organisasi-organisasi non pemerintahan turut memainkan peranan yang penting dalam sistem kerja internasional seperti halnya organisasi pemerintahan.

Pada tahun 1919 di Inggris , Hubungan Internasional diistilahkan sebagai International Politics, yang kajiannya lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat normative, seperti konsep perdamaian (peace), yang juga dapat diistilahkan dengan frase “against war”. International Politics sendiri memfokuskan bahasannya pada kajian strategy and security serta diplomacy. Apabila dikembalikan pada masalah penamaan, maka International Politics memiliki kesalahan yang minimal, karena kata politics meliputi pemerintah (government) dan negara (state), tidak seperti International Relations, dimana kata nation berarti bangsa. Pada perkembangannya, istilah International Politics mengalami penyempurnaan menjadi Interstate Relations, Transnational Relations, World Politics, dan akhirnya memunculkan istilah Global Politics yang merujuk pada globalisasi (globalization). Globalisasi sendiri merupakan suatu proses penghilangan batasan antarnegara atau secara lebih spesifik dapat dinyatakan sebagai suatu proses hubungan sosial secara relative yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasan-batasan secara nyata.

Sementara itu, terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam pengistilahan Interstate Relations dan Transnational Relations. Pada term Interstate Relations, hanya terbentuk hubungan dua arah antarpemerintah negara yang berkepentingan yang sering diistilahkan dengan billiard ball atau bola biliar. Sedangkan pada term Transnational Relations, hubungan yang terjadi lebih rumit, dimana semua unsur dari negara yang berkepentingan, seperti pemerintah, masyarakat, bahkan individu dapat saling berhubungan satu sama lain. Hubungan seperti ini sering diistilahkan dengan jaring laba-laba (Cobweb).

Kemudian masalah mengenai penamaan studi yang lazim kita kenal sebagai Hubungan Internasional, apakah penamaan International Relations (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Hubungan Internasional) itu sudah tepat, ataukah ada nama lain yang sebenarnya lebih tepat seperti:

-International Politics
-International System
-World Politics
-World System
-World Community
-Global Politics
-Global Society

Ya, jadi apabila disimpulkan, jadi sampai saat ini pendefinisian mengenai studi HI itu sendiri sifatnya masih debatable, atau masih dalam perdebatan ๐Ÿ™‚

Leave a comment »

Memulai Lagi

Dear World ๐Ÿ™‚

Gw bikin blog ini untuk berbagi “kecintaan” gw sama dunia HI, a.k.a Hubungan Internasional. Sebagian besar isi blog ini adalah tugas-tugas yang pernah gw kerjain di masa-masa gw masih kuliah dulu. Hal ini gw maksudkan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa tersesat yang hev no idea gimana caranya beresin tugas-tugas yang seringkali sifatnya teoritis hehe. Semoga bisa bermanfaat buat semua orang yang pengen mengenal dunia HI lebih dekat. Karena sebenarnya it’s an amazing subject yang bener-bener asyik buat dipelajari! Serius. Pesen gw buat temen2 mahasiswa cuma satu, jangan copy-paste langsung buat tugas ya! Karena percaya deh sama gw, your lecturers know…hehe… Dan satu lagi pesan seorang mantan HI’ers bodoh ini, untuk bisa survive di HI, u HAVE to keep yourself updated. Enjoy!

-UnaY-

HI Unpad 2004

Comments (2) »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (3) »